Tampilkan postingan dengan label antologi puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label antologi puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, Oktober 15, 2009

YANG TAKLEKANG

Yang taklekang olehku adalah cintamu
--kau cium sambil mengusap halus rambutku
selamat tinggal!

Yang taklekang olehku adalah kerlingmu
--menyapihkan setia pada lelap tidurku
tiada jumpa!

Yang taklekang olehku adalah firasat
--pada mata hati dan lisanku
yang membohongi dusta
tanpa sampai!

Yang taklekang olehku
adalah Kau

Adalah sejumput ragu yang terjengkang
--terjungkirkan oleh kata-kata
luruh dan tertinggal dalam sisa-sisa nafas


Mataram, 4 Oktober 2009

Senin, Mei 18, 2009

DI ETALASE

Untuk Rialisnawati
Kaki kami berjalan. Ke sana ke mari. Melihat engkau. Melihat mereka. Ingin rasa kuikut memegang. Setiap luka yang kau pilih-pilih.
Aku memilih gempa.
Aku membeli banjir.
Aku memesan tsunami.
Belum juga habis kagum kami atasnya, datanglah bergerombolan orang-orang memborong. Mematut-matut di hadapan kami.
“Sudah cocokkah baju tentara ini?”
“Kau belum cocok tanpa revolver.”
“Kenakan sorban ini.”
Dan kami semakin terjepit. Di antara mereka yang tengah membeli. Lebih baik kita memilih. Bersembunyi saja di tanah ini. Sepi. Sepi.
Kain kafan. Bacakan talqin!
Ardian, 16 Mei 2009

Aku Mengajak

Aku mengajak anjing untuk mengeong. Mengajak harimau memakan rumput. Mengajak bintang bersinar sebesar lampu neon lima watt. Mengajak petani membuat pupuk dari tinja amoeba.

Lalu kuceritakan kepada kerbau, ia mengajakku menggonggong. Mulutku terkunci. Ia mengunyahkan untukmu keju. Kau yang babi tak hendak memakannya.

Kau bertanya mengapa aku mengajak ular makan di restoran? Aku mengajakmu memakan ulat. Memamah tanah. Tapi harimau pun tak hendak memakan anaknya. Dan kita tak hendak membakar rumah sendiri. Lalu, mengapa membiarkan gergaji raksasa itu membabat rumah saudara-saudara kita yang satu Tuhan pula?


Ardian, Mei 2009

Kamis, April 30, 2009

Sajak Daun Kamboja Jatuh

In memoriam Papuq Saibi

Apa yang kau dengar dari derap kaki di jalan itu? Aku mendengar daun kamboja jatuh dan baunya diterbangkan angin menimpa iring-iringan orang-orang itu. Aku tak melihat asap kayu kemenyan terbakar, tapi wanginya itu menggerus debu aspal dan kotoran-kotoran kuda yang menimpa wajah orang-orang itu.

Mereka tidaklah saling mengenal. Berjalan tanpa tegur sapa. Tapi dengan tuju yang sama, langkah-langkah mereka bicara dengan pasir yang berkilat tersapu sinar matahari di jalan raya; dengan bungkus manisan yang sudah luntur warna catnya.

Dari bibir-bibir daun yang saling bertanya, keluar lagu-lagu tanpa salvo.

Barisan orang-orang yang terus berjalan dan meninggalkan garis-garis pijakan di belakang iringan utama. Tanpa tangis, mengapa tak menangis? Dalang di badan jalan menggelar pagelaran cerita arif. Ada jalan yang harus dilalui setiap kita. Setiap masanya memanggil untuk berjalan seperti suratannya dan terus bergulir. Jadi, air mata tersimpan rapi dalam peci; dalam kantung-kantung kemeja; dalam tiap lipatan sarung; dalam butir-butir tasbih yang terus berputar mengaji asma Tuhan.

Dan biarkan iring-iringan itu berjalan dengan mata hati mereka. Mengantarkannya menuju tempatnya sampai waktu tiba menggantikan kaki-kakinya ditempatkan di liang yang sudah disediakan baginya.

Bau bunga-bunga menyerbak. Air mengucur. Tanah pun sekadar basah, begitu segar. Sebuah tanda ia baru saja diantarkan mondok oleh kerabatnya.

Kuburan Bintaro, Sore Bisu, 27 April 2009

Senin, April 27, 2009

DUA ORANG MEMPELAT AKSARA


Shawky dan Faris

Mereka dua orang yang mempelat aksara. Kata-kata tiada nama, tiada arti. Siapa yang hendak tahu? Kecuali bibir yang terus saja berlafaz mengalirkan bunyi-bunyi cadel hingga ke telinga. Tawa mengiring, senyum menggema. Kecupan terulur deras. Dan hari-hari menghitung mereka. Hinggap dan menggema. Suara-suara itu mereka lahap lagi. Masuk tergagap hingga ia menemu dunia baru lagi. Di samping mereka orang-orang terkesima atas Tuhan yang berkarunia.

Ardian Pada Sore Aksara 2009

Ashabul Kahfi

Mendoa Usia Mama Wulan

Sudah berapa abad mereka tidak mendengar seruan? Prajurit-prajurit yang berteriak membombardir telinga-telinga awas mereka? Sudah berapa hari langkah mereka lewat dari sergapan? Mereka hanya insyaf bahwa diri mereka baru saja jadi buron; buruan lepas. Dan kini terkurung. Penuh kantuk. Terlelap. Tiada seruan lagi.

Dalam gua seruan mengalunkan lagu ke telinga mereka:

Tidurlah.
Masuklah dalam mimpimu.
Dan tidurlah. Hingga kelak.

Mereka tidak jua pernah menyeru Tuhan lagi. Tiada lapar. Hanya malaikat masih terus berjaga menggelayut di kantung-kantung mata. Tujuh pemuda dijamu mimpi-mimpi; dilipat-lipat abad. Zaman beralih di atas kaki dunia yang bergulir mesra. Mereka masih terlelap. Masuk dalam selimut lebih dalam.Seakan ini hanyalah istirahat pendek. Dari sorban mereka kemudian debu menyerbu sekitar. Negeri mereka. Tiada yang hilang sesuatu apa. Hanya tahun yang alpa mencatat pada buku agenda akan bangun mereka hari ini dari tidur itu.

Kemudian dengan seruan kecil karunia Tuhan dimunculkan. Dalam gua seruan membisik ke telinga mereka:

Bangunlah.
Menyerulah lagi.
Atau rebahlah dalam peluk-Ku

Mereka memilih tidur kembali. Di luar, zaman masih tertatih mengeja. Mereka, tujuh orang itu, telah menamatkan pelajaran mereka. Di hari bangun mereka. Juga anjing kecil teman mereka.

Dan kembalilah pulang.


Ardian, dalam Fajar Kenangan, 20 April 2009

Kamis, Februari 19, 2009

ANTOLOGI HUJAN

PROLOG

Sebuah catatan untuk hujan dari hujan melalui manusia

Tulisan ini merupakan serakan catatan kecil penulis semasa musim hujan. Tema yang muncul sederhana—semua diambil dari pengalaman penulis, baik pribadi maupun tafsiran terhadap suatu masalah. Mengapa bernama hujan? Itu juga menjadi pertanyaan penulis hingga kini. Tetapi menarik juga untuk didiskusikan secara berkelakar (tanpa berpikir). Hujan, memiliki satu khas ciri yang menarik jika dilihat. Ia serupa arsiran pensil pada kanvas langit. Tetapi tenaga di dalamnya begitu terasa ketika ia menjelma bersama kali atau gelombang tempatnya turun. Maka petakalah ia. Tetapi, ia begitu lembutnya membelai hati ketika berupa titik yang membekas pada tetumbuhan kering. Lalu secara simultan membasahinya hingga menjadi hijau kembali tetumbuhan itu. Pada dasarnya hujan adalah air. Dan air adalah kehidupan. Sehingga hujan tak jauh pula dari mati.


HUJAN 1

Hujan, padamu kuberikan mawar ini. Jagalah ia sebab di dalamnya bermekaran cintaku. Sebagai pigura terakhirku. Biar saja hanya aku, kau dan mawar itu menjadi saksi. Bahwa aku telah mengaji cinta, meski tak mampu mengkhatam keluasaan-Nya. Dan, kelopak-kelopak mawar yang gugur tiap hari tu menjadi ayat-ayatnya.

HUJAN 2

Tidak! Hujan sudah tidak turun lagi. Ia mengeras bersama tanah musim kemarau. Mengkristal dan kini secara sporadis melompat dan berada di pundakku. Lalu masuk dalam keranda. Bertasbih bersama bibir-bibir doa; zikir-zikir yang tercecer oleh keping-keping koin—nyawa semalam ini. Oh, panenku yang bersemu. Tak lama lagi kita kan bersua. Tapi kemarau menceraimu dariku. Bersama dengan hujan yang sudah kumasukkan dalam liang kubur.

HUJAN 3

Di batang pohon rimbun tak kutemukan napas hujan. Tapi cuma ia membekaskannya pada dinding-dinding rumah yang menjadi saksi kerasnya gelombang laut semalam.

HUJAN 4

Karena hujan tak hendak reda,biarlah kubungkuskan kau hujan sebagai kado ulang tahunmu.bukan aku tak cinta,tetapi hujan itu adalah cintaku padamu.untuk kau sirami hatimu yang tandus oleh musim kemarau lima tahun lalu. Rakyatmu kerempengan bertahun-tahun!

HUJAN 5

Ketika berbicara hujan, aku teringat air mata. Konon—oleh ibuku—hujan adalah tangisan malaikat atas dosa-dosa manusia yang tak bisa habis dan putus.

HUJAN 6

Alifbata hujan. Aku mengkhatamkanmu dalam semalam. Dalam mimpi.

Februari 2009

Labels

 

Daftar Blog Saya

Mengenai Saya

Foto Saya
Muh. Ardian Kurniawan
adalah seorang manusia yang lahir dari seorang ibu yang sangat saya cintai. Tinggal di Kampung Melayu Tengah-Apenan-Lombok
Lihat profil lengkapku

Followers

Copyright © 2009 by ...................................................................................................
Themes : Magazine Style by Blogger Magazine