
Tanpa ekspresi Via berjalan setelah membaca puisi Rendra berjudul Aku Tulis Pamplet Ini
Senin, April 13, 2009
Dia yang Menampilkan Aksi Seni (3)
Sabtu, April 11, 2009
Dia yang Menampilkan Aksi Seni (3)
Dia yang Menampilkan Aksi Seni (2)
Pentas Aksi Mahasiswa Bastrindo FKIP Unram: Laporan singkat

Oleh: Muh. Ardian Kurniawan*)
Alifbata kebodohan.
Kebisuan.
Kepalsuan.
Kemunafikan.
Penipuan.
Penindasan.
aku telah mengkhatammu hari ini.
Di hadapan mereka,
yang mengobralmu!
(kutipan puisi “Belajar Mengaji”, Ardian)
Pagi itu, 6 Maret 2009 sekitar pukul 09.00, di depan gedung A FKIP Unram, tiga orang lelaki bertelanjang dada dan bercelana jeans panjang dengan pandangan kosong. Mereka dengan langkah terseok-seok masuk ke gedung tersebut. Salah seorang di antaranya menggumamkan kata-kata yang kedengaran kurang jelas, sementara lainnya mengikuti mengulang kata-kata tersebut. “Batu mawar… batu langit… batu bisu… kaukah itu… teka-teki… yang tak menepati janji!” begitulah samar kata-kata itu masuk halus menembus dinding telinga.
Di belakangnya, berdiri juga seorang lelaki bertelanjang dada terikat memanggul sebatang kayu cukup berat. Langkah kakinya juga berat seperti telah melakukan perjalanan jauh. Sesekali terdengar teriakan dari lelaki ini karena dipecut cemeti yang dibawa oleh dua orang berpakaian serba hitam yang berada di kiri dan kanannya. Sementara satu orang lagi wanita dengan pakaian hitam hingga ke jilbab mengalunkan senandung nyinyir. Ia berada paling belakang. Iringi-iringan ini terus melangkah melewati gedung A menuju gedung B. Tanpa alas kaki.
Suasana belum ramai waktu itu. Orang-orang yang melihat iring-iringan ini hanya memandang heran dan saling bertanya ada apa? Pertanyaan itu masih tersimpan di mulut mereka.
Ketika iring-iringan baru mencapai jalan antara gedung A dan gedung B, gumaman yang tadi terdengar samar sekarang berubah menjadi teriakan-teriakan yang jelas. “Kaukah itu... teka-teki yang tak menepati janji” terus diulang-ulang. Tetapi dengan perkataan yang semakin keras dan tinggi.
Seolah sedang menyenandungkan masnawi Rummi, mereka kerasukan dan memukul-mukul dinding mading di gedung B. Mereka berhasil menyedot perhatian semua pihak.
Suara itu membuat ribut. Beberapa kelas yang berkuliah menghentikan kuliah mereka menganggap ada terjadi keributan. Sementara yang tidak memiliki aktivitas penting mengonsumsi pertunjukan itu sebagai sarapan mereka.
Tiba-tiba saja, semua mata mahasiswa yang berada di sekitar iring-iringan itu mengarah ke arah mereka. Seperti ada magnet khusus pada orang-orang itu.
Dikerubungi oleh banyak orang bukan membuat mereka takut atau menghindar, mereka menjadi semakin keranjingan dan berlari ke arah ruang dosen Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris FKIP Unram dan sisanya naik ke lantai dua gedung B tersebut. Mereka membacakan puisi!
Puisi-puisi ini adalah pesan tersirat yang ingin mereka komunikasikan dengan penonton. Namun, ternyata tidak cukup hanya dengan puisi. Mereka berteatrikal. Mengkritik program studi mereka (Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah).
Beberapa permasalahan yang masuk dalam kritik berujud seni itu adalah: dosen malas, nilai pada KHS yang keluar secara manipulatif, ruang kuliah yang tidak layak untuk kegiatan belajar mengajar, dan kurikulum yang amburadul.
Setelahnya mereka lalu mengusung salah seorang teman mereka yang tersalib kayu keluar dari tempat itu.
Rangkaian Simbol
Pertunjukan itu adalah rangkaian simbol-simbol. Mahasiswa yang tersalib kayu adalah simbol mahasiswa yang terkekang dan tidak bisa menyuarakan apa pun. Mereka adalah gambaran mahasiswa selama ini yang tidak berani melaporkan dosennya yang sudah keluar jalur. Kemudian usungan orang yang tersalib tersebut adalah perlambangan bahwa suara yang dikeluarkan mahasiswa baik berupa masukan saran atau kritik kepada pejabat kampus FKIP Unram khususnya program studi Bahasa Indonesia, tidak pernah dihiraukan.
Tetapi, dengan adanya pertunjukan ini, semua itu harus dihentikan. Jangan lagi ada mahasiswa yang menutup-nutupi. Jangan hendak jadi epigon sang dosen. Semua kegiatan ini adalah mimesis yang jika ditelusuri patut menjadi acuan refleksi pejabat di FKIP Unram bahwa kampus ini benar-benar perlu dirombak sistem pengajarannya, juga kurikulumnya. Terutama sekali adalah kualitas beberapa dosen yang masih mengandalkan cara mengajar zaman baheulak.
Lalu, mengapa melalui pertunjukan? Karena mereka yakin bahwa dengan kekerasan itu tidak baik, sedangkan dengan bicara melalui dialog sudah tidak ada gunanya lagi. Suara mereka tidak pernah digubris.
“Kini, yang ditegur adalah pemilik iman yang paling lemah. Dosen-dosen dan pejabat kampus itu memiliki hati dan iman yang lemah. Karena yang ditegur begitu halusnya, sehingga tidak layak tangan dan lisan berbuat sesuatu, tetapi biarlah hati mereka saja yang menerima teguran itu. Jika tidak bisa, kami ikut berkabung atas hal tersebut,” ucap salah seorang mahasiswa ketika kami berbincang-bincang usai kegiatan tersebut.
Kemudian pertunjukan seni ini dilanjutkan dengan dialog terbuka antara mahasiswa HMPS Bastrindo dengan Kepala Jurusan dan Kepala Program studi mereka. Di sinilah bermuara gabungan harapan dan janji-janji.
Satu insiden yang paling menarik adalah ketika ada salah seorang dosen Bahasa, sastra Indonesia, dan Daerah berinisial ME mengatai salah seorang mahasiswa dengan perkataan Setan! Ia keberatan dengan kritikan yang ditujukan padanya. Mungkin saja, ia adalah salah satu orang yang termasuk kriteria dalam kritikan tersebut. Tetapi, secara hukum, berdasarkan UU tentang guru dan dosen, berkata tidak sopan apalagi kapasitasnya adalah sebagai dosen pada waktu itu bukanlah hal yang patut dibenarkan. Hal ini perlu ditindaklanjuti oleh pejabat terkait. Akan bagaimana FKIP Unram kalau dihuni oleh dosen pemilik lidah kotor seperti itu?
Patut menjadi renungan kita semua kata-kata Soe Hok Gie (aktivis mahasiswa angkatan ’66 yang menjadi dosen UI setelah kelulusannya) bahwa guru yang tidak tahan kritik layak masuk keranjang sampah.
Dekan FKIP atau Rektor Universitas Mataram mempunyai PR untuk menegur dosen yang kurang sopan tersebut. Jangan sampai lidah pejabat kampus itu dibiasakan berkata bejad semacam itu.
Ditulis: 7 Maret 2009
Penulis, mahasiswa Bastrindo FKIP Unram 2006.
Aktif dalam kegiatan pers mahasiswa.
Kini sedang merancang rumah belajar mandiri untuk anak-anak yang tak bersekolah.
e-mail:mido_ardian@yahoo.com
Catatan 9 April 2009
prolog
Telah tercatat hari ini, di lembar-lembar zaman yang kita menyaksikan kata-kata mucrat. Telah tertempel kini di surat-surat suara, karangan bunga untuk kebajikan yang telah terkubur bersama kotak-kotak wadah suara itu nyemplung. Kini hanya ada pribadi-pribadi yang melanjutkan mimpi memperkaya diri sendiri.
Telah tercatat hari ini, dalam surat suara hati nurani. Kami menghitung satu huruf dari kata-kata yang keluar itu. Tasbih suci untuk bekal kami lima tahun menggadang mati. Tetapi, hujan liur dari bibir-bibir orang-orang suci menghapuskan catatan kami itu, di saat cat huruf itu masih basah. Sehingga raiblah catatan kami. Pun otak kami tak mau memikirkannya lagi. Sehingga tak bisa lagi kami akan menagih mereka bunga-bunga yang ingin mereka tanam di taman negeri kami. Dan langit masih bergeming. Kami tak bisa pasti.
Transaksi
Sementara orang yang bersemedi di bilik suara itu senantiasa menanti-nanti apakah benar suara yang ia jual dengan beras lima kilo akan terlunasi oleh dosanya yang telah pasti. Butir-butir beras terus masuk ke dalam perutnya, perut anak-anaknya. Perut. Cucunya yang tidak tahu itu—yang dapat nguping dengar suara negosiasinya dengan penjaja barter suara—beras. Beras-beras itu terus bertumbuh di dalam perutnya. Menjadi padi. Perut itu menjadi lumbung usahanya. Ia menjual setiap padi yang ia panen dari beras yang ia tanam di perutnya. Tetapi ia semakin kurus saja. Karena pajak setorannya harus ia bayarkan kepada dia si penjaja tadi.
Di bilik
Dan ketika ia membuka satu demi satu lembaran kertas putih itu. Ia melihat berbagai warna. Tak kenal ia siapa. Ia hanya disodorkan ratusan nama. Dengan satu buah senjata pulpen berwarna yang harus ia bubuhkan tintanya pada nama-nama berwarna. Kita tidak sedang tebak-tebakan warna. Bukan puzzle di taman kanak-kanak. Dan tak bisa sambil mata terpejam mendapat wangsit memilih yang paling benar. Sehingga ia membiarkan saja tangannya menunjuk semaunya.
Solitude.
Senandika.
Terlambat
Masih dibukakah pasar togel?
Ia terlambat karena mengantar istri yang tengah sakit. Di rumah sakit nyawa istrinya ia gadai. Demi datang ke kamar kecil tempat tisu WC-nya tersimpan. Tapi ia tidak boleh sembarang masuk lagi. Harus antri.
+ tapi aku mau beli togel?
- daftar dulu!
+ tapi aku terlambat. Dan aku buru-buru.
Orang terlambat tak boleh sentuh kertas ajaib. Besok saja pada undangan sekali lagi. Atau tunggu lima tahun lagi.
+ tapi aku sudah gadai istriku!
Mereka saling berpandang-pandang saja. Dan ia membiarkan kertas-kertas itu tertumpuk lagi. Meninggi. Tanpa sempat bersuara lagi. Ia pergi. Tanpa menoleh lagi pada kertas yang tertumpuk itu.
Istrinya meronta di ranjang. Meminum racun.
Sementara suaminya kembali bertanya-tanya kenapa ada hari seperti ini.
Insaf
Yang mesti dingatkan kepada kami adalah: setelah sembilan April dua ribu sembilan ini, kami tidak tahu apa-apa lagi kecuali dosa kami yang tidak memilih dengan setulus diri.
Kemenyan
Penghitungan.
Mari bakar kemenyan.
Ardian pada Sore Pemilu, 9 April 2009




